Sunday, October 19, 2008

Single Vendor vs Multi Vendor : Mana yang lebih baik ?

Peranan jaringan (network) dalam sebuah perusahaan (enterprise) saat ini sudah lebih dari sekedar suatu infrastruktur teknologi. Perusahaan-perusahaan, khususnya yang aware terhadap teknologi informasi, saat ini sudah sangat mengutamakan ketersediaan jaringan. Jaringan telah menjadi enabler bagi perusahaan, sarana utama yang menopang aplikasi-aplikasi yang critical bagi perusahaan, meningkatkan efisiensi dalam kegiatan operasional, dan meningkatkan produktivitas perusahaan. Dalam membangun infrastruktur jaringan, salah satu keputusan utama yang harus diambil oleh konsumen, mis. Perusahaan, adalah menetapkan vendor yang akan digunakan. Secara umum konsumen akan dihadapkan pada 2 pilihan, menggunakan satu vendor saja (single vendor) atau memilih menggunakan beberapa vendor sekaligus (multi vendor). Pilihan vendor yang tersedia bagi konsumen cukup banyak, antara lain Cisco, Juniper, Extreme, Nortel and Foundry. Terdapat banyak “perdebatan” antara pendukung single vendor dan pendukung multi-vendor mengenai mana yang sebaiknya dipilih oleh konsumen.

Cisco menyarankankan pemakaian single vendor untuk jaringan untuk mencapai tingkat kehandalan jaringan yang tinggi [1]. Terdapat beberapa keunggulan arsitektur single vendor yang ditonjolkan oleh Cisco dalam paper tersebut. Yang pertama adalah tingkat kompleksitas yang lebih rendah. Dengan mengadopsi arsitektur single vendor, semua layanan yang ada akan diimplementasikan dengan prosedur/mekanisme yang seragam. Jika konsumen ingin menggunakan layanan yang baru maka dia tidak perlu repot-repot mempelajari bagaimana cara mengimplementasikan layanan tersebut. Sementara jika menggunakan arsitektur multi vendor, sebelum mengimplementasikan suatu layanan, konsumen harus mempelajari implementasi protokol yang mungkin berbeda di setiap vendor. Keunggulan kedua adalah dari sisi support yang disediakan oleh vendor. Jika menggunakan single vendor maka dukungan yang diperoleh jelas akan lebih terjamin dan mudah dikendalikan. Jika konsumen memerlukan layanan baru atau mengalami kesulitan dengan jaringannya, maka siapa vendor yang harus dikontak atau siapa vendor yang bertanggung-jawab sudah bisa dipastikan. Keunggulan yang ketiga adalah dari sisi troubleshooting, implementasi single vendor mengakibatkan semua permasalahan yang menyangkut layanan atau protokol yang diimplementasikan dalam jaringan menjadi lebih mudah diselesaikan. Hal ini dikarenakan semua layanan dan protokol diimplementasikan secara seragam. Waktu yang diperlukan untuk menemukan solusi juga relatif lebih cepat karena hanya melibatkan technical support center (meminimalisir kebutuhan untuk melakukan koordinasi). Keuntungan berikutnya adalah konsumen tidak perlu melakukan training atau menyiapkan SDM yang menguasai beberapa arsitektur vendor yang berbeda, baik SDM untuk engineering maupun untuk operasional. Hal ini tentunya akan mengurangi biaya operasional yang dikeluarkan oleh konsumen. Satu keunggulan lain yang ditonjolkan adalah terbukanya kesempatan bagi konsumen untuk menggunakan inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh vendor untuk mencapai kualitas layanan yang lebih baik dan meningkatkan sisi kompetitif dari konsumen. Selain pernyataan Cisco di atas, dalam salah satu artikel di ISP Planet dinyatakan bahwa pemakaian single vendor dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk peralatan (hardware), pelatihan dan support. Selain itu, implementasi umumnya lebih cepat dan lebih sederhana karena masalah interoperabilitas yang harus ditangani jauh lebih sedikit [2].

Di lain pihak, cukup banyak pihak yang menyuarakan pendapat yang menentang pemakaian single vendor dalam infrastruktur jaringan. Menurut Foundry Networks[3], perkembangan infrastruktur jaringan dalam sebuah perusahaan harus ditentukan oleh strategi bisnis perusahaan. Infrastruktur jaringan yang ada harus mampu mendukung kebutuhan yang ada hari ini dan juga mampu berkembang untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Dalam arsitektur single vendor, perkembangan perusahaan justru akan dibatasi oleh keterbatasan vendor, karena vendor yang dipakai belum tentu mampu menangani kebutuhan-kebutuhan yang baru muncul. Dengan kata lain, strategi dan kepentingan bisnis perusahaan “terpaksa” harus menuruti kemampuan dari vendor yang digunakan. Strategi multi vendor mendukung ide dimana organisasi harus memiliki kebebasan dalam memilih solusi network yang paling sesuai kebutuhannya masing-masing (setiap organisasi pasti memiliki kebutuhan yang unik) dan berdasarkan pada standar yang terbuka (open standard). Kebebasan ini merupakan sesuatu yang dibutuhkan untuk menyesuaikan strategi infrastruktur perusahaan dengan kebutuhan bisnis. Kebebasan memilih ini merupakan satu kenggulan utama dari strategi multi vendor. Konsumen tidak akan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan satu vendor tertentu seperti yang terjadi dalam strategi single vendor. Konsumen bebas memilih vendor mana yang akan digunakan, jika vendor A hanya bisa memenuhi 50% dari kebutuhan perusahaan, maka konsumen bisa memilih vendor lain untuk memenuhi 50% sisa kebutuhannya. Dengan demikian, konsumen tidak perlu mengorbankan satu komponen jaringan tertentu hanya karena keterbatasan salah satu vendor. Strategi single vendor memaksa konsumen untuk puas dengan apa yang mampu ditawarkan oleh satu provider untuk seluruh komponen/area dalam infrastruktur jaringannya. Sementara strategi multi vendor memungkinkan suatu solusi optimal (best-of-breed) untuk seluruh komponen jaringan dalam perusahaan.

Keuntungan lain dari strategi multi vendor adalah para vendor berlomba-lomba untuk menghasilkan inovasi baru. Dengan adanya kemampuan konsumen untuk memilih solusi yang terbaik sesuai dengan perkembangan dan perubahan kebutuhan bisnisnya, para vendor harus bersaing untuk terus berinovasi dalam memberikan keuntungan yang kompetitif dan performansi yang makin baik. Bagaimana dengan aspek resiko dan biaya? Strategi multi vendor ternyata justru mengurangi resiko karena konsumen tidak menggantungkan nasibnya pada keputusan satu vendor tunggal. Disamping itu, dengan strategi ini semua vendor memiliki posisi yang setara sehingga mereka benar-benar harus memberikan best-pricing, program layanan yang bermutu dan nilai tambah yang signifikan bagi konsumen. Dengan kata lain, biaya yang harus dikeluarkan konsumen bisa jadi lebih sedikit. Hal ini berlawanan dengan strategi single vendor dimana sang vendor tunggal bisa dengan seenaknya meningkatkan harga melalui sekian banyak upgrade yang sifatnya wajib, menuntut biaya ekstra untuk program tambahan dan produk layanan lain yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh konsumen. Strategi single vendor menawarkan dukungan (support) yang terjamin, bagaimana dengan multi vendor? Kompleksitas jaringan saat ini memerlukan tenaga technical support yang benar-benar merupakan ahli dengan pengetahuan yang mendalam untuk setiap domain permasalahan yang mungkin muncul dalam jaringan. Strategi single vendor umumnya didesain sebagai satu paket produk yang lengkap dan meng-cover seluruh aspek dalam jaringan, maka biasanya staf technical support yang tersedia adalah tipe generalis yang memiliki pengetahuan yang luas tentang seluruh aspek jaringan tetapi tidak sampai mendalam. Akibatnya jika terjadi masalah yang serius, kita akan cukup kesulitan mencari orang yang cukup ahli yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Di lain pihak, dengan strategi multi vendor dimana setiap vendor memiliki produk yang hanya mencakup aspek/area tertentu dalam jaringan, masing-masing vendor dapat menyediakan staf technical support yang merupakan spesialis dengan keahlian khusus sesuai dengan produk yang ditawarkan vendor tersebut. Sehingga jika terjadi masalah yang serius pada salah satu komponen jaringan perusahaan, vendor yang bertanggung jawab terhadap komponen itu sudah memiliki staf ahli yang kompeten yang mampu menyelesaikan permasalahan saat itu juga.

Jadi, mana yang lebih baik? Jawabannya bisa bervariasi untuk setiap perusahaan. Ada perusahaan yang merasa lebih aman dengan memakai satu vendor tunggan yang sudah terkemuka seperti Cisco, namun ada juga yang merasa lebih nyaman memakai beberapa vendor yang berbeda karena tidak bisa menemukan satu vendor tunggal yang bisa memenuhi semua kebutuhannya. Penulis pribadi lebih menyukai solusi multi vendor. Kenapa? Dalam suatu vendor tunggal yang menawarkan variasi produk sangat luas, terlepas dari seberapa besarnya vendor tersebut, pasti akan ada produk-produk yang diunggulkan dan menjadi prioritas utama. Produk-produk unggulan ini pula yang mungkin membuat vendor tersebut menjadi sangat populer dan laku di pasaran. Namun demikian, jika ada produk-produk yang prioritasnya tinggi, pasti ada juga produk-produk yang prioritasnya rendah dan akhirnya memiliki kualitas yang tidak terlalu baik karena alokasi resource yang terbatas atau pengembangannya tidak tidak terlalu diperhatikan oleh produsen (vendor). Sekali lagi, hal ini karena sang vendor lebih terfokus pada pengembangan inovasi dan kualitas produk-produk unggulan tadi, sehingga ada produk-produk yang pengembangannya kurang diperhatikan. Dengan strategi single vendor, konsumen yang memilih vendor besar mungkin memang akan mendapatkan kualitas layanan yang memuaskan, tetapi belum tentu untuk semua produk. Mungkin ada produk/layanan tertentu dari vendor yang kurang memuaskan. Kebijakan single vendor membuat konsumen tidak dapat mencoba mencari alternatif vendor lain untuk prosuk/layanan yang kurang memuaskan tadi, padahal mungkin saja banyak vendor lain yang menawarkan kualitas yang jauh lebih baik untuk produk tersebut. Jadi, menurut saya, strategi multi vendor lebih fair baik bagi konsumen maupun bagi para vendor, Konsumen dapat mendapatkan kualitas terbaik di semua aspek jaringan, dan vendor pun dapat memperoleh kesempatan yang setara. Khususnya bagi vendor yang lebih kecil yang hanya memfokuskan produk dan/atau layanannya pada satu area kompetensi tertentu. Masalah yang kemudian muncul adalah interoperabilitas antar vendor yang dipakai, tetapi hal ini dapat diantisipasi dengan membatasi penggunaan vendor agar tidak terlalu banyak. Perusahaan dapat memakai satu vendor besar yang sudah cukup lengkap, kemudian menambah 1 atau 2 vendor lain untuk melengkapi layanan yang masih kurang.

Referensi & Pustaka

[1] Cisco. “Risk Mitigation: Reducing Risk Through a Single-Vendor Integrated Network. White Papers” Sept. 17, 2008. [Online]. URL : http://www.cisco.com/en/US/prod/collateral/switches/ps5718/ps708/ps713/prod_white_paper0900aecd806db80d.html. [Tanggal Akses: 16 September 2008]

[2] Foundry Network. “Leveraging the Advantagers of a Multi Vendor Network Strategy. White Paper” February 09, 2008. [Online]. URL: http://www.foundrynet.com/pdf/wp-advantages-multi-vendor-network.pdf. [Tanggal Akses: 18 September 2008]

[3] Milberg, Ken. “Choosing network equipment vendors: Multi-vendor vs. single-source”. March 12, 2008. [Online]. URL: http://searchnetworkingchannel.techtarget.com/tip/0,289483,sid100_gci1305061,00.html [Tanggal Akses: 18 September 2008]

[4] Phifer, Lisa. “Multi-Vendor VPNs: The Quest for Interoperability”. June 20, 2001 [Online]. URL: http://www.isp-planet.com/technology/2001/vpn_bible.html. [Tanggal Akses: 16 September 2008]

[5] Prognosis. “White paper: Multi-vendor IP telephony management: challenges and solutions“. May 2007. [Online]. URL: http://www.webtorials.com/abstracts/Prognosis9.htm [Tanggal Akses: 18 September 2008]

[6] Taylor, Steve. Metzler, Jim. “Single-vendor integrated network vs. best of breed: Why single vendor is best”. November 26, 2007 [Online]. URL: http://www.networkworld.com/newsletters/frame/2007/1126wan2.html [Tanggal Akses: 18 September 2008]

[7] Taylor, Steve. Metzler, Jim. “Nortel asks: Do you really want to give control of your destiny to Cisco?”, December 03, 2007. [Online]. URL: http://www.networkworld.com/newsletters/frame/2007/1203wan2.html [Tanggal Akses: 18 September 2008]

[8] Taylor, Steve. Metzler, Jim. “Single, dual or multivendor sourcing - which works better?”. January 7, 2008. [Online]. URL: http://www.networkworld.com/newsletters/frame/2008/0107wan1.html?page=1 [Tanggal Akses: 18 September 2008]



0 comments: